Eco Bambu

Bambu adalah rajanya material bangunan yang ramah lingkungan!

Bambu bukan solusi instan untuk masalah lingkungan yang dihadapi planet ini, tetapi dapat membantu untuk memecahkan beberapa dari masalah tersebut bahkan dalam hal ekonomi makro.

Di Asali Bali kami tidak fanatik dalam penggunaan bambu tetapi kami secara aktif mempromosikan bambu untuk beberapa aplikasi, seperti struktur bangunan dan atap.
Rangkuman keuntungan dari bambu untuk konstruksi:
- Bambu merupakan material konstruksi yang berkualitas dan terjangkau serta banyak tersedia secara lokal.
- Bambu bisa menjadi material yang bertahan seumur hidup jika bangunan dirancang dan direkayasa dengan baik.
- Desain, arsitektur dan rekayasa konstruksi menawarkan solusi untuk mengurangi kelemahan bambu sehingga meningkatkan kelangsungan bangunan.
- Pengetahuan tradisional yang dicampur dengan teknik konstruksi modern dan bambu berkualitas tinggi menghasilkan konstruksi yang benar-benar berkelanjutan.
- Menggunakan bambu menghindari berlebihnya biaya material seperti baja atau beton.
Mengapa bambu adalah suatu keharusan ketika berbicara mengenai ekologi?
- Simbol keabadian bagi orang Cina, bambu tumbuh dengan cepat dan terus menerus.
- Bambu merupakan bahan yang selalu lestari dan dapat diperbaharui jika perkebunan – perkebunan dipelihara dan dipanen dengan benar.
- Bambu bisa tumbuh di tempat yang tidak dapat Anda tanami seperti di lereng gunung atau dekat sungai.
- Bambu adalah salah satu tanaman yang menangkap paling banyak karbon di atmosfer.
- Mengembangkan bambu otomatis berarti lebih banyak pekerjaan dan pembangunan di daerah pedesaan.
- Anda menyelamatkan pohon dari hutan alami dengan menggunakan bambu daripada kayu.
Mari kita lihat secara singkat kayu yang merupakan salah satu pesaing utama bambu untuk konstruksi.
90% kayu yang dijual di Indonesia berasal dari hutan alami termasuk Bangkirai, Merbau, dan Meranti. 25% dari seribu tahun hutan alami Indonesia telah habis sejak 20 tahun yang lalu, dan itu adalah hutan nomor dua di dunia setelah Brazil.
Jika Anda terus membeli kayu dari hutan alami, penebangan hutan akan terus berlanjut dengan sangat cepat dengan konsekuensi besar pada ekologi makro planet kita.
Kami pikir tidaklah waras jika sekarang kita masih menggunakan kayu dari hutan alami.
Hanya tiga jenis kayu yang secara massal ditanam di Indonesia dan secara ekologis dapat diterima, yaitu jati, mahoni dan albesia. Kami harus mengatakan bahwa spesies tersebut cukup baik dikelola di Indonesia. Di antara tiga spesies tersebut, hanya jati yang memiliki sifat mekanik yang diperlukan untuk konstruksi. Sayangnya jati membutuhkan waktu 20 sampai 25 tahun untuk mencapai kualitas-kualitas tersebut sehingga hanya sedikit yang mampu menggunakan konstruksi dengan jati. Beberapa spesies lain seperti kayu ulin, didaur ulang dari konstruksi lama seperti jembatan dan gudang. Hal ini dapat diterima oleh lingkungan, tetapi sumber daya semacam ini terbatas. Kayu vs Bambu : Kelangsungan bukanlah konsep yang mudah. Kita dapat menemukan tiga aspek utama untuk mengevaluasi kelangsungan sebuah material:
- Kelangsungan dari karakteristik suatu material
- Kelangsungan material ini dalam sistem ekonomi global (transportasi, polusi yang dihasilkan saat berproduksi)
- Bagaimana material ini digunakan oleh individu atau perusahaan-perusahaan.

Pada dasarnya kayu merupakan bahan yang berkesinambungan karena bertahan untuk waktu yang lama jika diterapkan dengan benar. Terutama untuk spesies serat padat seperti jati atau ulin. Tentu saja serat padat berarti lebih banyak waktu dan lebih banyak energi dari tanah untuk tumbuh. Tapi saat ini siapa yang dapat berbicara tentang kesinambungan tanpa melihat sekilas pada sumber daya global? Katakanlah itu memalukan bahwa keuntungan tersebut tidak sepadan dengan kesinambungan sumber daya.
Perkebunan yang dikelola sangatlah berkesinambungan apabila di atas kertas. Beberapa organisasi seperti Perum Perhutani di Indonesia menunjukkan kompetensi yang jelas dan pengalaman yang besar. Beberapa perkebunan jati telah dikelola sejak 1649 di Indonesia. Tetapi kenyataannya adalah penebangan liar dari perkebunan hutan masih ada.
Selain perkebunan yang dikelola, satu-satunya cara untuk mendapatkan kayu di planet ini adalah hutan alami. Hal ini tidak boleh dilakukan lagi! Ini hanya permasalahan rasa. Apa yang akan kita katakan pada anak-anak kita? Tanpa hutan alami? Terlalu banyak karbon di atmosfer? Tanpa harimau? Tanggung jawab kita masing-masing sebagai konsumen saat ini sangatlah langka. Kesadaran dalam mengonsumsi merupakan syarat bagi evolusi kita. Kita sampai pada titik dimana sangatlah tidak waras untuk mengeksploitasi sumber daya alam hutan hanya untuk menarik keuntungan. Lain kali saat Anda membeli sebatang kayu, tolong tanyakan dari mana asalnya dan jika jawabannya tidak jelas carilah alternatif! Beberapa label internasional seperti FSC atau PEFC mencoba untuk memperjelas situasi. Jika prinsip dan ketertarikan dari kayu bersertifikat penting untuk informasi konsumen, kami tidak yakin label-label tersebut benar-benar transparan dan tidak dirusak oleh lobi-lobi yang kuat. Buatlah pendapat Anda sendiri.
Bambu tampaknya menjadi solusi alternatif untuk kayu sebagai material yang berkesinambungan. Ini adalah tanaman yang tumbuh dengan cepat, penangkap karbon yang kuat, ringan untuk pengangkutan dan material yang kuat untuk struktur bangunan.

Orang-orang yang bersungguh-sungguh seperti Environmental Bamboo Foundation di Bali telah menunjukkan lebih banyak tentang keuntungan dari bambu. Tapi sayangnya bambu memiliki empat kelemahan:
- serangan rayap dan terpapar permanen oleh matahari serta air dan beberapa kelemahan struktural yaitu ketika berhubungan dengan sambungan dan koneksi. Tapi jika dilihat lebih dekat, solusi-solusi yang tepat ada untuk kelemahan tersebut.
- Kelembaban bukanlah masalah asalkan bambu tidak permanen bersentuhan dengan sumber kelembaban. Sistem-sistem dalam konstruksi dapat ditemukan untuk menghindari masalah ini.
- Sinar UV dari matahari "memakan" kulit yang kuat dari bamboo namun tipis yang mana merupakan aspek struktural.
Dalam hal ini, Anda memiliki 100% kemungkinan untuk memiliki masalah estetika dimana bambu akan menjadi abu-abu dan masalah struktural seperti keretakan mungkin akan terjadi. Disinilah arsitektur dan desain memberikan solusi-solusi.
- Untuk parasit, sebuah pengobatan rayap organik baru adalah solusi yang kami sukai karena nyaman untuk digunakan bahkan secara profesional dan terbukti efisien untuk menyingkirkan rayap tanpa merugikan alam.
- Rekayasa sambungan adalah solusi untuk kelemahan struktural bambu

Jadi, apakah bambu merupakan surga dari kesinambungan? Tidak untuk semua tujuan, tapi bisa jika kita mempertimbangkan secara profesional batasannya!
Sejauh bambu menjadi material yang mengikuti tren terkini, permintaan akan tumbuh di seluruh dunia. Kelangsungan sumber daya menjadi sebuah pertanyaan. Disini, pengelolaan sumber daya adalah titik kunci karena sangatlah menggoda untuk memotong semua bambu yang dekat dengan akses jalan... Anda tidak boleh memotong lebih dari 20% dari pangkal bambu untuk memastikan kelangsungan hidup jangka panjang dan pertumbuhan yang cepat. Juga beberapa aspek mode dari bambu seperti akar tidak cocok untuk kelestarian sumber daya. Karena jika Anda memotong buku pertama yang dekat akar bambu, itu akan membutuhkan waktu 6/10 tahun daripada 3/5 tahun untuk menjadi dewasa lagi. Pertimbangkan hal itu sebelum membeli bambu dengan akar hanya untuk alasan estetika saja.
Sumber daya bambu masih melimpah terutama di Indonesia dan juga memiliki keuntungan untuk tumbuh di daerah terpencil, dimana sulit untuk menanam, seperti lereng gunung atau dekat sungai.

Namun gerakan hijau dan mode untuk bambu secara alami meningkatkan permintaan.
Pengembangan proyek perkebunan dalam skala regional dan pelatihan tentang bagaimana untuk menanam dan memanen bambu di perkebunan yang dikelola dengan baik adalah titik kunci untuk memastikan sumber daya yang kekal dan memungkinkan sebuah industri bambu untuk berkembang.

Bambu bisa bertahan seumur hidup jika dirawat dan diperlakukan dengan benar. Bambu jauh lebih murah daripada kayu bahkan memiliki nilai jika bambu berkualitas tinggi diproses dengan benar.

Akan lebih menyenangkan untuk tidak menyentuh hutan alami lagi ketika Anda bisa memiliki pandangan lain terhadap bambu dalam hal konstruksi, dekorasi dan tujuan-tujuan lainnya.
Dalam hal perumahan dan konstruksi bangunan, kreativitas tidak pernah terbatas dengan bambu. Namun arsitek dan insinyur harus terbiasa dan pelan-pelan mulai mengusulkan bambu kepada klien mereka.
Mengubah kebiasaan memakan waktu yang lama, tetapi kita harus tetap ingat bahwa sekarang kita berada di dunia dimana kesadaran harus ditingkatkan dengan cepat dalam hal ekologi sebagai akibat dari pemberantasan hutan alami atau perubahan iklim. Tidak ada pilihan.
Mari kita menyadari dengan cermat cara kita mengonsumsi dan tidurlah dengan nyenyak dalam sebuah kesadaran dan ketenangan.
Thierry Cayot, pendiri Asali Bali
Sumber tidak disebutkan untuk menghindari peniruan.

Kontak kami
Kembali ke halaman utama

Dendrocalamus Asper dan Gigantochloa Apus tua, lurus dan kering sempurna, di cuci dan diobati anti rayap

Sangat sedikit energi yang dibutuhkan untuk membangun struktur bambu yang menakjubkan

green bamboo

Dendrocalamus Asper, Bambu Petung yang terkenal

traditionnal bamboo work

100% terbuat dari bambu

Semangat Bali dalam bekerja

Seni memilih bambu yang tepat untuk tujuan yang tepat

Menangani akar bambu

 

Back